Warning: trim() expects parameter 1 to be string, array given in /home/berkalab/public_html/libraries/joomla/html/parameter.php on line 83

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/berkalab/public_html/libraries/joomla/html/parameter.php:83) in /home/berkalab/public_html/templates/tj_palermo/jwd.php on line 47
Berkala Ilmiah Biologi
 

Terbitan Terbaru

Vol. 8 No. 1, Juni 2009

Afiliasi

Jumlah Pengungjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Kemelimpahan Larva Chironomidae Berdasarkan Gradien Lingkungan di Sungai Winogo, Yogyakarta
Oleh Ririn Widyastuti* dan Suwarno Hadisusanto**   

Intisari

Widyastuti, R. dan S. Hadisusanto. 2009. Kemelimpahan larva Chironomidae berdasarkan gradien lingkungan di Sungai Winogo, Yogyakarta. Berkala Ilmiah Biologi (8)1: 33 -- 39.

Chironomidae berperan penting dalam habitat perairan sehingga dapat dijadikan tolok ukur kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas air dan sedimen, kemelimpahan larva Chironomidae dan pengaruh lingkungan perairan terhadap kemelimpahan larva Chironomidae di Sungai Winongo Yogyakarta. Penelitian dilakukan bulan Juni 2008 sampai dengan bulan November 2008, dilakukan di 8 stasiun dengan 2 kali pengulangan tiap stasiun penelitian. Pencuplikan sedimen menggunakan vertical core sampler yang dibuat dari pipa PVC dan sedimen disaring menggunakan saringan Tyler no. 20, 40, dan 60. Larva disortir dan diawetkan dalam alkohol 79% dan formalin 2%. Analisis data meliputi indeks diversitas Shannon-Wiener dan indeks dominansi, selanjutnya dilakukan analisis regresi korelasi. Kualitas perairan Sungai Winongo secara keseluruhan berada dalam ambang batas lingkungan. Larva Chironomidae yang tercuplik pada penelitian ini terdiri dari 2 genus, Chironomus dan Ablabesmyia. di antara stasiun pengamatanyang diteliti, kemelimpahan larva tertinggi di Ngampilan 60,39 ind/m3, di Mlati 10,97 ind/m3, dan di Jlagran 7,84 ind/m3. Sedangkan berdasarkan bulan pencuplikan, kemelimpahan larva Chironomidae tertinggi di bulan Juli yaitu sebesar 51,36 ind/m3. Parameter lingkungan yang mempengaruhi kemelimpahan larva Chironomidae adalah kandungan DO dan BOD.

Selanjutnya...
 
Isolasi dan Identifikasi Fraksi Toksik Terhadap Sel Kanker Payudara (T47D) dan Usus Besar (WiDR) pada Ekstrak Kloroform Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk.)
Oleh Yulia Ika Yanti *, Sukarti Moeljopawiro**, dan Subagus Wahyuono***   

Intisari

Yanti, Y.I., S. Moeljopawiro, dan S. Wahyuono. 2009. Isolasi dan identifikasi fraksi toksik terhadap sel kanker payudara (T47D) dan usus besar (WiDR) pada ekstrak kloroform buah merah (Pandanus conoideus Lamk.). Berkala Ilmiah Biologi (8)1: 25 -- 32.

Kanker usus besar dan kanker payudara merupakan dua jenis kanker penyebab kematian utama pada pria dan wanita diseluruh dunia dengan angka kematian 677 ribu dan 548 ribu jiwa pertahun. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak kloroform buah merah varietas Maler memiliki toksisitas untuk membunuh sel kanker payudara tetapi senyawa toksik dalam ekstrak ini masih belum diidentifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi fraksi toksik terhadap sel kanker payudara (T47D) dan usus besar (WiDR) dalam ekstrak kloroform buah merah (Pandanus conoideus Lamk.). Buah merah diekstraksi dengan kloroform. Ekstrak kloroform yang diperoleh difraksinasi dengan Vacuum Liquid Chromathography (VLC). Kromatografi Latis Tipis (KLT) digunakan untuk memonitor senyawa bioaktif. hasil fraksi diuji toksisitasnya dengan MTT assay menggunakan doksorubisin sebagai kontrol positif. Fraksi aktif diproses lebih lanjut dengan VLC dan kemudian dilakukan uji toksisitas dengan MTT Assay untuk menentukan fraksi toksik. Identifikasi senyawa dalam fraksi toksik dilakukan dengan metode Gass Chromathography - Mass Spectroscopy (GC-MS). Nilai IC50fraksi toksik (fraksi 2.5) sebesar 118,77 µg/mL untuk sel T47D dan 121,63 µg/mL untuk sel WiDR. Berdasarkan analisa GC-MS, fraksi toksik buah merah mengandung 25 senyawa dengan 3 kandungan senyawa terbesar yaitu 9-octadecenoic acid (Z), hexadecanoic acid dan l-nonadecen.

Selanjutnya...
 
Genetic Diversity and Taxonomic Relationships of Teak (Tectona grandis L.f.) Provenances in Indonesia Based on Random Amplified Polymorphic DNA Analysis
Oleh Abdul Razaq Chasani*, Taryono**, dan Anto Rimbawanto***   

Abstract

Chasani, A.R., Taryono, and A. Rimbawanto. 2009. Genetic diversity and taxonomic relationships of teak (Tectona grandis L.f.) provenances in Indonesia based on random amplified polymorphic DNA analysis. Berkala Ilmiah Biologi (8)1: 17 -- 24.

Teak (Tectona grandis L.f.) is one of the valuable and economic plant in Indonesia due to their excellent wood structure and figure. Teak is recognized as a luxury timber around the world. The research and development program on teak should be equally balanced witj deeper understading of the biological character including their variations and taxonomic relationships. Accordingly, this research was conducted to study genetic variation and taxonomic relationship of teak in Indonesia in order to support the conservation and plant breeding program. In this study, RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) technique, which facilitates detection of variability at DNA level, was used to genetic diversity and taxonomic relationships of teak prevenances in Indonesia. A number of teak provenances from Java and Sulawesi were observed for their DNA fingerprinting using Popgene 3.2 and NTSys 2.02i. The provenance relationship was shown as a dendrogram based on cluster analysis. The information on teak origin and their possible genetic drift in Indonesia was done by literature study. Results showed that the genetic variation of teak within population was 62.22%, which is higher than between population (37.78%). Provenance relationships indicated that the Indonesian teak were clustered into two groups, Java and Sulawesi, with genetic distance of 10.51%. The clusters obtained, however, did not clearly differentiate preovenances based on their origin. It was assumed that Indonesian teak not only consists of Tectona grandis L.f. but there is another species of teak i.e. Tectona hamiltonia Wall ex. Schau.

Selanjutnya...
 
Studi Variasi Morfologi Cangkang Siput Cyclophorus perdix (Broderip & Sowerby, 1830) untuk Menentukan Status Taksonominya
Oleh Nova Mujiono*   

Intisari

Mujiono, N. 2009. Studi variasi morfologi cangkang siput Cyclophorus perdix (Broderip & Sowerby, 1830) untuk menentukan status taksonominya. Berkala Ilmiah Biologi (8)1: 9 -- 16.

Cyclophorus perdix adalah siput yang banyak dijumpai di wilayah dataran rendah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. dikenal adanya dua anak jenis, yaitu Cyclophorus perdix tuba yang terdapat di Sumatra, dan Cyclophorus perdix borneensis yang dijumpai di Kalimantan. Namun demikian status taksonomi kedua anak jenis tersebut masih menjadi perdebatan. Berdasarkan kajian morfometri pada cangkang, ditemukan bahwa kedua anak jenis tersebut dapat dinaikkan status taksonominya menjadi dua jenis yang berbeda, yaitu Cyclophorus tuba dan Cyclophorus borneensis. Adapun nama Cyclophorus perdix digunakan untuk siput yang ditemukan di Jawa.

Selanjutnya...
 
Gastropoda dan Pelecypoda di Perairan Pelabuhan Gresik, Jawa Timur
Oleh Ucu Yanu Arbi*   

Intisari

Arby, U.Y. 2009. Gastropoda dan Pelecypoda di perairan Pelabuhan Gresik, jawa Timur. Berkala Ilmiah Biologi (8)1: 1 -- 8.

Penelitian Gastropoda dan Pelecypoda di perairan Pelabuhan Gresik dilakukan pada bulan Desember 2005 dan April 2006. Pengamatan dilakukan pada 6 stasiun. Contoh Gastropoda dan Pelecypoda didapat dengan metode core, dan berhasil dikumpulkan sebanyak 11 jenis Gastropoda dan 5 jenis Pelecypoda. Littorina undulata (Littorinidae) dari kelas Gastropoda merupakan moluska yang mempunyai penyebaran yang relatif luas. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H) tertinggi terdapat pada Stasiun I (0,84) dan terendah pada Stasiun 4 (0,59). Nilai indeks kemerataan jenis (e) berkisar antara 0,76 -- 1 dan nilai indeks dominasi jenis (C) berkisar antara 0,17 -- 0,34. Nilai indeks kemiripan jenis (S) berkisar antara 0,17 -- 0,67. Secara umum, keanekaragaman jenis moluska di perairan Pelabuhan Gresik masuk dalam kategori rendah.

Selanjutnya...